Lilis mudah membusuk (misal : plastik dan kertas). Kegiatan

Lilis Sulistyorini, Pengelolaan Sampah

 

 

PENGELOLAAN SAMPAH

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

DENGAN CARA MENJADIKANNYA KOMPOS

 

Lilis Sulistyorini1)

 

1) Bagian Kesehatan Lingkungan FKM Universitas Airlangga

 

Abstract: Solid
waste disposal activity is a continous activities. Therefore, solidwaste
management system is needed. Management of urban solid waste has some
difficulties in collecting the solid wastes and finding safe area to disposal
them. Composting is needed to reduce its volume. Composting is a biological
process.

 

Composting is special process, because the raw material, the place,
although the method can be done by anyone and wherever. Factors influence
composting are : the shorting, size, nutrient (C/N ratio), and the moisture of
raw material. The place of composting process might be digging soil, container
or surface of soil.

 

Effective microorganism 4 (EM 4) can be used for composting, because it can
accelerate decomposition process of organic solid waste. EM4
works in temperature of 40 – 50 oC. The fermentation process will produce sugar,
alcohol, vitamine, lactic acid and else organic compound. The result of
fermentation process is named bokashi. The compost is useful for kinds of
plants .

 

Keywords :
compost, disposal, solid waste.

 

PENDAHULUAN

 

Sampah (refuse)
adalah sebagian dari sesuatu yang tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu
yang harus dibuang, yang umumnya berasal dari kegiatan yang dilakukan oleh
manusia (termasuk kegiatan industri), tetapi bukan biologis (karena human
waste tidak termasuk didalamnya) dan umumnya bersifat padat (Azwar,
1990). Sumber sampah bisa bermacam-macam, diantaranya adalah : dari rumah
tangga, pasar, warung, kantor, bangunan umum, industri, dan jalan.

 

Perkembangan dan pertumbuhan penduduk yang pesat di daerah perkotaan
mengakibatkan daerah pemukiman semakin luas dan padat. Peningkatan aktivitas
manusia, lebih lanjut menyebabkan bertambahnya sampah. Faktor yang mempengaruhi
jumlah sampah selain aktivitas penduduk antara lain adalah : jumlah atau
kepadatan penduduk, sistem pengelolaan sampah, keadaan geografi, musim dan
waktu, kebiasaan penduduk, teknologi serta tingkat sosial ekonomi (Depkes RI.,
1987).

 

 

 

77

78 
JURNAL KESEHATAN
LINGKUNGAN, VOL. 2, NO. 1, JULI 2005 : 77 – 84

 

 

Berdasarkan komposisi kimianya, maka sampah dibagi menjadi sampah
organik dan sampah anorganik. Penelitian mengenai sampah padat di Indonesia
menunjukkan bahwa 80 % merupakan sampah organik, dan diperkirakan 78% dari
sampah tersebut dapat digunakan kembali (Outerbridge, ed., 1991).

 

Menurut Murtadho dan Said (1987), sampah organik di – bedakan menjadi
sampah organik yang mudah membusuk (misal: sisa makanan, sampah sayuran dan
kulit buah) dan s ampah organik yang tidak mudah membusuk (misal : plastik dan
kertas).

 

Kegiatan atau aktivitas pembuangan sampah merupakan kegiatan yang tanpa
akhir. Oleh karena itu diperlukan sistem pengelolaan sampah yang baik.
Sementara itu, penanganan sampah perkotaan mengalami kesulitan dalam hal
pengumpulan sampah dan upaya mendapatkan tempat atau lahan yang benar-benar
aman (Soeryani et al, 1997). Maka pengelolaan sampah dapat dilakukan
secara preventive, yaitu memanfaatkan sampah salah satunya seperti usaha
pengomposan (Damanhuri, 1988).

 

PENGOMPOSAN SAMPAH

 

Kompos adalah pupuk alami
(organik) yang terbuat dari bahan – bahan hijauan dan bahan organik lain yang
sengaja ditambahkan untuk mempercepat proses pembusukan, misalnya kotoran
ternak atau bila dipandang perlu, bisa ditambahkan pupuk buatan pabrik, seperti
urea (Wied, 2004).

 

Sampah kota bisa juga digunakan sebagai kompos dengan catatan bahwa
sebelum diproses menjadi kompos sampah kota harus terlebih dahulu
dipilah-pilah, kompos yang rubbish harus dipisahkan terlebih dahulu.
Jadi yang nantinya dimanfaatkan sebagi kompos hanyalah sampah-sampah jenis garbage
saja (Wied, 2004).

 

Berbeda dengan proses pengolahan sampah yang lainnya, maka pada proses
pembuatan kompos baik bahan baku, tempat pembuatan maupun cara pembuatan dapat
dilakukan oleh siapapun dan dimanapun. Kompos dapat digunakan untuk tanaman
hias, tanaman sayuran, tanaman buah -buahan maupun tanaman padi disawah. Bahkan
hanya dengan ditaburkan diatas permukaan tanah, maka sifat-sifat tanah tersebut
dapat dipertahankan atau dapat ditingkatkan. Apalagi untuk kondisi tanah yang
baru dibuka, biasanya tanah yang baru dibuka maka kesuburan tanah akan menurun.
Oleh karena itu, untuk mengembalikan atau mempercepat kesuburannya maka tanah
tersebut harus ditambahkan kompos .

 

Menurut Unus (2002) banyak faktor yang mempengaruhi proses pembuatan
kompos, baik biotik maupun abiotik. Faktor -faktor tersebut antara lain :

 

a.    
Pemisahan bahan
: bahan-bahan yang sekiranya lambat atau sukar untuk didegradasi/diurai, harus

Lilis Sulistyorini, Pengelolaan Sampah 79

 

 

dipisahkan/diduakan,
baik yang berbentuk logam, batu, maupun plastik. Bahkan, bahan-bahan tertentu
yang bersifat toksik serta dapat menghambat pertumbuhan mikroba, harus
benar-benar dibebaskan dari dalam timbunan bahan, misalnya residu pestisida.

 

b.    
Bentuk bahan :
semakin kecil dan homogen bentuk bahan, semakin cepat dan baik pula proses
pengomposan. Karena dengan bentuk bahan yang lebih kecil dan homagen, lebih
luas permukaan bahan yang dapat dijadikan substrat bagi aktivitas mikroba.
Selain itu, bentuk bahan berpengaruh pula terhadap kelancaran difusi oksigen
yang diperlukan serta pengeluaran CO 2 yang dihasilkan.

 

c.    
Nutrien : untuk
aktivitas mikroba di dalam tumpukan sampah memerlukan sumber nutrien
Karbohidrat, misalnya antara 20% – 40% yang digunakan akan diasimilasikan
menjadi komponen sel dan CO2, kalau bandingan sumber nitrogen dan sumber
Karbohidrat yang terdapat di dalamnya (C/N -resio) = 10 : 1. Untuk proses
pengomposa nilai optimum adalah 25 : 1, sedangkan maksimum 10 : 1

 

d.    
Kadar air bahan
tergantung kepada bentuk dan jen is bahan, misalnya, kadar air optimum di dalam
pengomposan bernilai antara 50 – 70, terutama selama proses fasa pertama.
Kadang-kadang dalam keadaan tertentu, kadar air bahan bisa bernilai sampai 85%,
misalnya pada jerami.

 

Disamping persyaratan di atas, masih diperlukan pula persyaratan lain
yang pada pokoknya bertujuan untuk mempercepat proses serta menghasilkan kompos
dengan nilai yang baik, antara lain, homogenitas (pengerjaan yang dilakukan
agar bahan yang dikomposkan selalu dalam keadaan homogen), aeras i (suplai
oksigen yang baik agar proses dekomposisi untuk bahan -bahan yang memerlukan),
dan penambahan starter (preparat mikroba) kompos dapat pula dilakukan, misalnya
untuk jerami. Agar proses pengomposan bisa berjalan secara optimum, maka
kondisi saat proses harus diperhatikan. Kondisi optimum proses pengomposan bisa
dilihat pada Tabel 1.

80 
JURNAL KESEHATAN
LINGKUNGAN, VOL. 2, NO. 1, JULI 2005 : 77 – 84

 

 

Tabel 1.
Kondisi Optimum Proses Pengomposan

 

Parameter

 

Nilai

C/N – rasio bahan

30

– 35 : 1

C/P – rasio bahan

75

– 150 : 1

Bentuk / ukuran materi

1,3 – 3,3, cm untuk proses pabrik

 

3,3  – 
7,6  cm  untuk 
proses  biasa

 

sederhana

Kadar air bahan

50

– 60 %

Aerasi

0,6 – 1,8 m3 udara/hari/kg bahan selalu

 

proses
termofilik, sedang untuk proses

 

selanjutnya
makin berkurang

Temperatur maksimum

55oC

Sumber: Unus,
(2002)

 

 

BAHAN BAKU KOMPOS SAMPAH

 

Proses pengomposan atau membuat kompos adalah proses biologis karena
selama proses tersebut berlangsung, sejumlah jasad hidup yang disebut mikroba,
seperti bakteri dan jamur, berperan aktif (Unus, 2002).

 

Dijelaskan lebih lanjut agar peranan mikroba di dalam pengolahan bahan
baku menjadi kompos berjalan secara baik, persyaratan-persyaratan berikut harus
dipenuhi :

 

1.    
Kadar air bahan baku : daun-daun yang masih
segar atau tidak kering, kadar airnya memenuhi syarat sebagai bahan baku.
Dengan begitu, daun yang sudah kering, yang kadar airnya juga akan berkurang,
tidak memenuhi syarat. Hal tersebut harus diperhatikan karena banyak
pengaruhnya terhadap kegiatan mikroba dalam mengolah bahan baku menjadi kompos.
Seandainya sudah kering, bahan baku tersebut harus diberi air secukupnya agar
menjadi lembab.

2.    
Bandingan
sumber C (Karbon) dengan N (zat lemas) bahan : bandingan ini umumnya disebut
rasio/bandingan C/N. dengan bandingan tersebut proses pengomposan berjalan baik
dengan menghasilkan kompos bernilai baik pula, paling tinggi 30, yang artinya
kandungan sumber C berbanding dengan kandungan sumber = 30 : 1. Sebagai contoh,
kalau menggunakan jerami sebagai bahan baku kompos, nilai rasio C/N -nya
berkisar 15 – 25, jadi terlalu rendah. Karena itu, bahan ba ku tersebut harus
dicampur dengan benar agar nilai rasio C/N -nya berkisar 30. Misalnya, lima
bagian sampah yang terdiri atas daun -daunan dari pekarangan dicampur dengan
dua bagian ko toran kandang, akan mencapai nilai rasio C/N mendekati 30, atau
lima bagi an sampah tersebut dicampur dengan lumpur selokan (lebih kotor akan
lebih

Lilis Sulistyorini, Pengelolaan Sampah 81

 

 

baik) sebanyak
tiga bagian, juga akan mencapai rasio C/N sekitar

30.   
Sementara itu,
untuk jerami, lima bagian jerami harus ditambah dengan tiga bagian kotoran
kandang, atau kalau tid ak ada dengan empat bagian Lumpur sedotan sehingga nilai
rasio C/N-nya akan mendekati 30.

 

TEMPAT PENGOMPOSAN

 

Tempat pengomposan tergantung kondisi serta luas lahan (pekarangan
rumah) yang dapat disiapkan untuk pembuatan kompos. (Wied, 2004). Dengan
demikian, bentuk tempat pengomposan dapat bermacam-macam, antara lain :

 

1.  
Berbentuk
lubang dengan ukuran 100 x 75 x 50 cm atau 2,5 x 1 x 1 m (panjang, lebar, dan
tinggi), bisa lebih, bisa juga kurang, tergantung kepada lahan yang dapat
digunakan sebagai tempat pembuatan kompos, serta bahan baku yang akan dibuat atau
diproses. Bentuk lubang mudah dibuat . Selain itu, setiap bahan baku yang akan
dimasukkan hanya tinggal dijatuhkan ke dalamnya. Namun, kejelekan dari tempat
berbentuk lubang ini ialah kalau musim hujan akan tergenang air sehingga proses
pengomposan akan terhambat. Tambahan pula, bahan sukar untuk dicampurkan sampai
merata.

 

2.  
Berbentuk bak, baik dengan dinding yang terbuat
dar i batu bata (tembok), dari bambu, dari kayu ataupun dari bahan-bahan
lainnya. Kebaikan dari tempat ini ialah mudah untuk mencampurkan bahan, tidak
tergenang air di musim hujan. Adapun kejelekannya, memerlukan biaya yang cukup
mahal untuk membuat dinding.

3.  
Pada permukaan
tanah saja, artinya timbunan bahan baku langsung ditempatkan pada permukaan
tanah tanpa lubang atau dinding. Dengan cara ini pencampuran bahan baku agar
rata mudah dilakukan. Selain itu, tidak tergenang air, tetapi sangat mudah
diganggu oleh binatang, misalnya ayam, atau binatang lain, seperti tikus dan
celurut yang senan g berdiam pada timbunan sampah.

 

PENGGUNAAN EFFECTIVE MICROORGANISMS 4 (EM4)

 

DALAM PENGOMPOSAN

 

Effective Microorganisms 4 (EM4 )
merupakan kultur cam-puran dalam medium cair berwarna coklat kekuningan, berbau
asam dan terdiri dari mikroorganisme yang men guntungkan bagi kesuburan tanah.
Adapun jenis mikroorganisme yang berada dalam EM 4
antara lain : Lactobacillus sp., Khamir, Actinomycetes, Streptomyces. Selain
memfermentasi bahan organik dalam tanah atau sampah, EM 4
juga

82 
JURNAL KESEHATAN
LINGKUNGAN, VOL. 2, NO. 1, JULI 2005 : 77 – 84

 

 

merangsang
perkembangan mikroorganisme lainnya yang mengun-tungkan bagi kesuburan tanah
dan bermanfaat bagi tanaman, misalnya bakteri pengikat nitrogen, pelarut fosfat
dan mikro – organisme yang bersifat antagonis terhadap penyakit tanaman.

 

EM4 dapat digunakan untuk pengomposan, karena mampu
mempercepat proses dekomposisi sampah organik (Sugihmoro, 1994). Setiap bahan
organik akan terfermentasi oleh EM 4 pada suhu 40 – 50o
C. Pada proses fermentasi akan dilepaskan hasil berupa gula, alkohol, vitamin,
asam laktat, asam amino , dan senyawa organik lainnya serta melarutkan unsur
hara yang bersifat stabil dan tidak mudah bereaksi sehingga mudah diserap oleh
tanaman. Proses fermentasi sampah organik tidak melepaskan panas dan gas yang
berbau busuk, sehingga secara naluriah serangga dan hama tidak tertarik untuk
berkembang biak di sana. Hasil proses fermentasi tersebut disebut bokashi.

 

PENUTUP

 

Kompos sebagai salah satu contoh pupuk organik, sangat baik dan
bermanfaat untuk segala jenis tanaman, m ulai dari tanaman hias, tanaman
sayuran, tanaman buah-buahan sampai ke tanaman pangan dan perkebunan (Unus,
2002).

 

Untuk Tanaman
Hias

Sebaiknya, kompos dicampurkan secara merata terlebih dahulu dengan tanah
sebelum bibit ditanamkan. Berbeda dengan pupuk pabrik, kelebihan penggunaan
kompos tidak akan menyebabkan tanaman layu atau mati. Untuk tanaman hias di
dalam pot maka campuran tanah dengan kompos akan merupakan tempat yang paling
baik dan memenuhi syarat bagi tanaman, baik dari segi pertumbuhan dan
perkembangannya ataupun dari segi kesehatannya (dari kemungkin an adanya
serangan hama atau penyakit tanaman) . Biasanya bandingan campuran 1 : 1 antara
tanah dengan kompos merupakan bandingan yang sesuai.

 

Untuk Tanaman
Sayuran

Kompos dapat dicampurkan terlebih dahulu selama pengelolaan tanah
(seperti untuk tanaman hia s) atau kemudian ditaburkan di sekeliling
bibit/tanaman yang ditanamkan, bergantung kepada jenis tanaman sayuran,
penggunaan kompos dapat berkisar antara lima sampai dua puluh per hektarnya.

 

Untuk
tanaman sayuran seperti kubis (kol), misalnya penanaman tanpa penambahan tetap
diberi pupuk pabrik, hasilnya tidak akan baik. Tanpa kompos misalnya tidak
mungkin di daerah Pangalengan, Lembang, Pacet, atau Cipanas akan menghasilkan
sayuran bernilai baik atau sangat baik seperti sekarang. Tanpa kompos,
pertanian sayuran tidak akan sebaik sekarang hasilnya.

Lilis Sulistyorini, Pengelolaan Sampah 83

 

 

Untuk Tanaman
Buah-buahan

Biasanya bagian tanah di seputar pohon di gali terlebih dahulu baru
diberi kompos. Ada pula yang membuat lubang di sekeliling pohon pada jarak
tertentu, umumnya di bawah ujung daun terluar. Pada lubang tersebut kemudian di
tambahkan kompos.

 

Untuk Tanaman
Lainnya

Untuk tanaman lainnya, biasanya bergantung kepada jenis dan keadaan
tanah tempat tanaman tersebut ditanamkan. Untuk padi huma misalnya, penambahan
kompos bersamaan dengan bibit yang baru ditanamkan. Sedangkan untuk padi sawah,
kompos disebarkan waktu tanah sawah diolah.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Azwar, Asrul. (1990). Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan .
Jakarta:

 

Mutiara Sumber
Widya.

 

Damanhuri, E. (1988). Optimasi Lahan Sanitary Landfill, Suatu
Konsep. Jurnal Tehnik Penyehatan Edisi Mei .

 

Depkes, RI.
(1987). Pedoman Bidang Studi Pembuangan Sampah ,

 

Akademi    Penilik     Kesehatan     Teknologi       Sanitasi

(APKTS).
Jakarta : Proyek Pengembangan Pendidikan

Tenaga Sanitasi
Pusat Departemen Kesehatan .

 

Murtadho,      Djuli
dan Said Gumbira. (1987). Penanganan dan Pemanfaatan Limbah Padat. Jakarta
: Mediyatama Sarana Perkasa.

 

Outerbridge, Thomas (ed). (1991). Limbah Padat di Indonesia : Masalah
atau Sumber Daya. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

 

Slamet, JS. (1994). Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta : Gajah Mada
University Press.

 

Sugihmoro. (1994). Penggunaan Effective Microorganism 4 (EM4) dan
Bahan Organik pada Tanaman Jahe ( Zingiber officinale Rose) Jenis
Badak. Skripsi. Bogor : Institut Pertanian Bogor.

 

Suryani, M. Ahmad R., dan Mudi R. (1997). Lingkungan Sumber Daya Alam
dan Kependudukan Dalam Pembanguna n. Jakata : Universitas Indonesia
Press .

84 
JURNAL KESEHATAN
LINGKUNGAN, VOL. 2, NO. 1, JULI 2005 : 77 – 84

 

 

Unus, Suriawiria. (2002). Pupuk Organik Kompos dari Sampah,
Bioteknologi Agroindustri. Bandung : Humaniora Utama Press.

 

Wied, Hary Apriaji. (2004). Memproses Sampah. Jakarta : Penebar
Swadaya.

Filename:                             8.Kompos,
Lilis (77-84)

 

Directory:                            F:JURNAL
KESHLINGVolume 2 No. 1Artikel siap

 

cetak_word

Template:                            C:Documents
and Settings unairApplication

DataMicrosoftTemplatesNormal.dot

Title:                                      BAB I

Subject:

Author:                                 JOHAN
KADHAFI NUR

Keywords:

Comments:

Creation
Date:                  6/29/2005 9:30:00
AM

Change
Number:             47

Last Saved
On:                8/3/2005
11:28:00 AM

Last Saved
By:                 pc

Total
Editing Time:          185 Minutes

Last Printed
On:               4/10/2007
11:07:00 AM

As of Last Complete Printing

Number of Pages: 8

Number of
Words:                 2,227
(approx.)

Number of
Characters:         12,699 (approx.)

x

Hi!
I'm Owen!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out